<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Nuansa Wanita &#187; lingkungan kerja</title>
	<atom:link href="http://nuansawanita.com/category/lingkungan-kerja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nuansawanita.com</link>
	<description>Melihat dunia dari sudut pandang wanita</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Dec 2009 14:31:36 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Untung Rugi Sekantor dengan Pasangan</title>
		<link>http://nuansawanita.com/2009/11/untung-rugi-sekantor-dengan-pasangan/</link>
		<comments>http://nuansawanita.com/2009/11/untung-rugi-sekantor-dengan-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 08:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nina</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan kerja]]></category>
		<category><![CDATA[kantor]]></category>
		<category><![CDATA[pasangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nuansawanita.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Bekerja sekantor dengan suami mungkin memiliki keuntungan secara ekonomi. Pasangan dapat berangkat ke kantor dan pulang bersama. Selain itu, komunikasi antara pasangan menjadi lebih lancar karena, mereka saling tahu kondisi tempat mereka bekerja.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_13" class="wp-caption alignleft" style="width: 240px"><a href="http://pelangiku.com/2009/06/konsen-donk/"><img class="size-full wp-image-13" title="couple in office" src="http://nuansawanita.com/wp-content/uploads/2009/11/coupleoffice03.jpg" alt="couple in office" width="230" height="223" /></a><p class="wp-caption-text">couple in office</p></div>
<p>Peraturan soal pasangan suami istri di satu perusahaan memang tidak diatur secara khusus dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenaga-kerjaan. Hal tersebut hanya sedikit disinggung pada Bab XII Pasal 153, yang bunyinya, &#8220;<em>Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan: (salah satunya) pekerja atau buruh mempunyai pertalian darah dan atau ikatan perkawinan dengan pekerja atau buruh lainnya di dalam satu perusahaan</em>&#8220;.</p>
<p>Meski begitu, perusahaan memiliki kebijakan internal sendiri soal pernikahan antarkaryawan. Kebijakan internal tersebut biasanya diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerjasama.</p>
<p>Dengan demikian tak heran bila kita menemui ada perusahaan yang memperbolehkan pasangan suami bekerja sekantor, ada pula yang melarang. Atau memperbolehkan, dengan catatan pasangan tersebut tidak dalam satu unit atau divisi. Perusahaan sebaiknya sejak awal sudah menyosialisasikan kebijakan internal soal pernikahan antar karyawan.</p>
<p><span id="more-12"></span></p>
<h2>Untung Rugi</h2>
<p>Bekerja sekantor dengan suami mungkin memiliki keuntungan secara ekonomi. Pasangan dapat berangkat ke kantor dan pulang bersama. Selain itu, komunikasi antara pasangan menjadi lebih lancar karena, mereka saling tahu kondisi tempat mereka bekerja.</p>
<p>Hal ini juga menciptakan kesamaan sudut pandang dalam menyikapi pekerjaan. Pasangan juga memiliki sumber terpercaya untuk mendiskusikan berbagai masalah dan tantangan.</p>
<p>Dengan bekerja sekantor, pasangan suami istri dapat saling mendukung dan saling menjaga rahasia perusahaan. Kolaborasi pasangan suami istri juga bisa melahirkan cara-cara bisnis yang lebih efektif dan efisien.</p>
<p>Namun, bekerja satu perusahaan juga mempunyai sisi negatif. Masalah pribadi mungkin akan terbawa ke kantor. Selain menimbulkan suasana tidak harmonis, kinerja pasangan berdua juga menjadi tidak prima. Bukan mustahil juga pertengkaran kecil yang terjadi di kantor akan menjadi pertikaian besar di rumah.</p>
<h2>Bersikap Profesional</h2>
<div id="attachment_14" class="wp-caption alignright" style="width: 240px"><a href="http://miacantik.com/bisnis-cerdas-rumahan-a-la-dbc-network/"><img class="size-full wp-image-14" title="bersama pasangan" src="http://nuansawanita.com/wp-content/uploads/2009/11/coupleoffice02.jpg" alt="bersama pasangan" width="230" height="283" /></a><p class="wp-caption-text">bersama pasangan</p></div>
<p>Untuk menghindari masalah-masalah di atas, Tuti menyebut satu hal yang wajib dimiliki saat suami istri bekerja dalam satu perusahaan, yaitu sikap profesional. Masing-masing harus saling memacu diri dan mendukung agar bekerja lebih baik. Hindarkan situasi saling mem-bandingkan kinerja dan lingkungan kerja. Selain itu, mereka tidak boleh mencampuradukkan masalah pribadi dan masalah kantor.</p>
<p>Pasangan juga harus memberikan kesempatan satu sama lain untuk mengembangkan diri, baik soal pengembangan karier maupun kehidupan sosial kantor. Sikap saling mengingatkan juga diperlukan. Pasangan suami istri hendaknya memanfaatkan kedekatan lokasi kerja untuk saling mengingatkan agar bisa bekerja dan bersikap secara profesional serta hindari kesalahan yang bisa menjatuhkan nama baik mereka.</p>
<p>Jangan mudah mengumbar emosi di depan rekan-rekan kerja. Hargai privasi yang dimiliki oleh pasangan. Jaga profesionalisme kita di kantor dengan beranggapan seolah-olah kita dan suami tidak punya hubungan pribadi. Meski sulit dilakukan namun harus diingat bahwa sikap ini menentukan keberhasilan pasangan berdua.</p>
<p>Untuk meminimalisir risiko terjadinya hal yang tidak diinginkan, disarankan agar suami dan istri tidak bekerja dalam satu unit atau divisi. Hal ini berkaitan dengan pengaturan mutasi, promosi ataupun pengembangan karier lainnya yang mungkin.</p>
<p>Ditambah lagi faktor kultur di Indonesia yang masih mengharuskan suami berkarier lebih baik dari istri. Padahal, seringkali kenyataannya karier dan kompetensi istri lebih baik dari suami. Kondisi ini berpotensi menimbulkan konfik pada pasangan yang mempengaruhi kinerja perusahaan.</p>
<p>Bila ternyata hubungan pribadi ataupun hubungan kerja pasangan suami istri sudah tidak nyaman lagi, sebaiknya salah satu dari mereka memutuskan untuk pindah kerja. Hal ini dilakukan untuk menghindari kondisi kerja ataupun kondisi rumah tangga menjadi buruk.</p>
<h2>Bila Salah Satu Harus Pergi</h2>
<p>Untuk mereka yang belum menikah, atau berencana menikah dengan teman sekerja, ada beberapa beberapa tips yang bisa kita berikan:</p>
<ul>
<li>Sebelum memilih bekerja di sebuah perusahaan, kenali betul peraturan tertulis dan tidak tertulis serta kultur yang berlaku. Termasuk soal pernikahan antar-karyawan.</li>
<li>Jika hubungan asmara dengan rekan sekerja akan berlanjut ke jenjang pernikahan, mulailah dengan serius merencanakan strategi karier bersama pasangan pascapernikahan. Diskusikan dengan pasangan, siapa yang kira-kira harus tetap berada di perusahaan. Tentunya dengan pertimbangan yang objektif seperti kompetensi kerja, kesempatan karier dan prestasi masing-masing. Yang perlu diingat, diskusikan semuanya dengan kepala dingin agar keputusan yang diambil adaiah keputusan terbaik.</li>
<li>Memang, biasanya, perusahaan akan memberikan waktu pada karyawan untuk mencari pekerjaan baru setelah meiakukan pernikahan antarkaryawan. Namun, akan lebih baik jika kita atau pasangan sudah mencari perkerjaan jauh sebelum pernikahan dilaksanakan. Sehingga, setelah menikah tidak lantas menimbulkan masalah baru karena kita atau pasangan harus menjadi pengangguran.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nuansawanita.com/2009/11/untung-rugi-sekantor-dengan-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
